Skip to main content

Tentang Panas

(Puisi malam Surabaya, 22 Juni 2019)

Sekotak teh dingin
Menemaniku ketika pagi menjelang
Tidak semerbak aroma kopi
Menyadarkanku betapa renungnya hidup

Rasa syukur terus terpanjatkan
Dari kekuatan hati
Kepada Sang pemilik
Tanpa terasa panaspun menggebu

Surabaya panas
Tanpa pendingin ruangan
Tanpa kipasan angin
Panasnya menyengat
Sampai ketulang belulang

Namun panas membawa nikmat
Dibalik dinginnya teh kotak

Hati kemudian bergaruk bimbang
Bingung
Apakah dia kesepian
Apakah egoisme otakku
Menelantarkan hati ini

Panas
Mungkin hati ini panas
Atau mungkin otak yang panas

Kemudian hati bingung
Apakah dia kesepian
Mungkin dia bertanya
Mengapa tak ada teman sang teh kotak

Aku buka dompet kumal ini
Apa yang terjadi?
Hanya dua keping uang logam yang nampak
Hati dibenani lagi pilu melihat sang teh tak ada teman di sampingnya

Panas
Egoisme otak
Keping logam
Tega berkolaborasi menginjak-injak hati ini

Ataukah renungku yang salah?
Apakah teh kotak mencari teman hati pada diri yang lain.

Comments